Kecamatan Pulo Aceh · Kabupaten Aceh Besar · Aceh

PULAU NASI

Pulau berpenghuni di mulut Selat Malaka — lima gampong nelayan di selatan Sabang dan di barat Banda Aceh, dengan pantai alami, makam kuno Raja Kandang, dan tari Likok Pulo yang masih hidup.

5GAMPONG
1.566JIWA · BPS 2024
±27,3 km²LUAS PULAU
1–1,5 jamFERI DARI BANDA ACEH

Tentang Pulau Nasi

Pulau Nasi adalah salah satu pulau utama di gugusan Pulo Aceh, terletak pada koordinat sekitar 5°37′ LU dan 95°7′ BT. Secara administratif pulau ini masuk Kecamatan Pulo Aceh, kabupaten terluar di ujung barat Sumatra. Seluruh wilayah pulaunya terbagi habis ke dalam lima gampong.

GampongLuas (km²)Penduduk 2024
Alue Riyeung7,30413
Pasi Janeng6,26275
Deudap5,33248
Rabo4,79411
Lamteng3,67219
Total Pulau Nasi27,351.566

Sumber: BPS Kabupaten Aceh Besar, Kecamatan Pulo Aceh Dalam Angka 2025 (luas wilayah Tabel 1.1; penduduk DKB Semester II 2024, Dukcapil Aceh Besar). Luas pulau yang terbit di literatur: 27,32 km².

🎓

Pendidikan

Di pulau ini berdiri SMAN 1 Pulo Aceh (Alue Riyeung), SMPN 1 Pulo Aceh, serta SD dan madrasah di beberapa gampong — anak pulau tidak harus menyeberang untuk sekolah dasar dan menengah.

🏥

Kesehatan

Puskesmas kecamatan berada di Pulau Breuh, gampong tetangga satu gugusan; Pulo Aceh dilayani ambulans laut sejak akhir 2021, dan di Pulau Nasi tercatat pustu di Pasi Janeng dan Alue Riyeung.

📶

Internet Warga

Sebagian warga terhubung lewat jaringan WiFi komunitas lokal berbasis voucher — dijual dan dikelola dari pulau sendiri — selain sinyal seluler dari seberang.

Pantai & Alam

Garis pantai Pulau Nasi bertabur lhok — teluk-teluk kecil berpasir yang menjadi wajah harian pulau: tempat perahu ditambat, ikan dibersihkan, dan anak-anak berenang sore hari.

🏖️

Pantai-pantai pulau

Daftar wisata Kementerian Pariwisata untuk gugusan ini mencatat antara lain Pantai Deumit, Nipah, Deudap, Pasi Janeng, Lamtadu, dan Pasi Raye. Di Gampong Deudap, titik-titik pesisir yang terdokumentasi meliputi Lhok Keutapang, Lhok Kaca Kacu, Lhok Reudeup, Gunong Penyeri, dan Ujong Eumpee.

🤿

Snorkeling di Nipah

Pantai Nipah dikenal untuk snorkeling: hamparan karang hidup dapat dijumpai sekitar 100 meter dari bibir pantai. Perairan pulau juga disebut dalam literatur pariwisata Aceh untuk kegiatan menyelam — datanglah bersama pemandu lokal dan jaga karangnya.

🦑

Laut yang menghidupi

Hasil laut adalah nadi pulau: ikan, sotong, gurita, cumi-cumi, dan kepiting adalah tangkapan utama nelayan Pulau Nasi dari generasi ke generasi.

💡

Soal mercusuar terkenal itu

Mercusuar Willem's Toren III (1875) yang sering tampil di foto Pulo Aceh berdiri di Pulau Breuh — pulau tetangga — bukan di Pulau Nasi. Dari pesisir barat pulau ini, siluetnya adalah pemandangan seberang yang akrab bagi warga.

Sejarah & Budaya

🍚

Nama dari bekal nasi

Menurut tradisi lisan yang dicatat Ensiklopedia Populer Pulau-pulau Kecil Nusantara, nama Nasi dikaitkan dengan bekal nasi bungkus para penyeberang zaman Kesultanan Aceh. Nama lain pulau ini, Peunaso/Peunasou — “pengisi” — dikaitkan dengan kisah Sultan Iskandar Muda, Putroe Phang, dan Raja Kandang.

👑

Makam Raja Kandang

Di Alue Riyeung terdapat makam kuno Raja Kandang, yang diduga berasal dari era Kerajaan Aceh Darussalam; inskripsinya belum terbaca. Badan makam sempat jatuh akibat tsunami 2004 dan dipugar oleh BRR setahun sesudahnya.

🌊

Tsunami 2004

Gelombang 26 Desember 2004 menghantam keras gugusan Pulo Aceh. Menurut kesaksian geuchik setempat, Alue Riyeung adalah gampong yang paling parah terdampak di pulau ini, sementara Rabo — tanah tertinggi di pulau — menjadi satu-satunya gampong yang selamat dari terjangan. Pulau ini bangkit kembali; bekas-bekasnya masih diceritakan para tetua hingga kini.

🥁

Likok Pulo

Tari Likok Pulo — tarian berirama tepukan dan syair nasihat — lahir di gugusan ini dari seorang ulama Arab yang terdampar pada abad ke-19, dan hingga hari ini masih diajarkan serta hidup di Gampong Rabo, Pulau Nasi. Buku resmi Kemendikbud RI (2017) mendokumentasikan tari ini sebagai warisan budaya Aceh Besar.

Cara ke Sana

Satu-satunya jalan ke Pulau Nasi adalah laut — dan memang di situlah petualangannya dimulai.

Ke Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh

Semua penyeberangan reguler ke Pulau Nasi berangkat dari pelabuhan ini. Datanglah pagi — jadwal kapal ke pulau sangat dipengaruhi cuaca dan musim.

Naik KMP Papuyu ke Pelabuhan Lamteng

Kapal feri ASDP KMP Papuyu (284 GT, ±100 penumpang, ±8 kendaraan) melayani rute segitiga Ulee Lheue – Lamteng – Balohan (Sabang) yang dibuka sejak 18 Januari 2024. Lama menyeberang sekitar 1–1,5 jam. Selain feri, warga juga menyeberang dengan boat motor nelayan (sekitar 45 menit dalam catatan perjalanan lama).

Tiba di Lamteng, jelajahi pulau

Dari pelabuhan Lamteng, gampong-gampong lain — Deudap, Rabo, Pasi Janeng, Alue Riyeung — terhubung jalan pulau yang bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua.

⚠️ Jadwal feri berubah-ubah mengikuti cuaca, musim, dan kebijakan operator — berbagai sumber menuliskan hari keberangkatan yang berbeda. Pastikan jadwal terbaru langsung ke Pelabuhan Ulee Lheue atau ASDP sebelum berangkat. Situs ini sengaja tidak menampilkan tarif, karena belum ada tarif resmi terkini yang terpublikasi.

Kehidupan di Pulau

🎣

Nelayan

Mayoritas warga adalah nelayan. Pagi dimulai di lhok: perahu berangkat sebelum subuh, dan hasil tangkapan — ikan, sotong, gurita, cumi, kepiting — dijual ke penampung atau dibawa menyeberang ke Banda Aceh.

🌶️

Petani & pekebun

Di Deudap, warga juga bertani dan berkebun — cabai rawit, singkong, dan semangka tercatat di antara komoditasnya. Alue Riyeung dikenal memiliki sawah pokok pulau ini.

🦞

Masa depan

Dinas Kelautan dan Perikanan setempat telah menyuarakan rencana pengembangan budidaya lobster dan rumput laut untuk gugusan Pulo Aceh — peluang berikutnya bagi ekonomi pulau, melengkapi perikanan tangkap yang sudah berjalan.