Pulau berpenghuni di mulut Selat Malaka — lima gampong nelayan di selatan Sabang dan di barat Banda Aceh, dengan pantai alami, makam kuno Raja Kandang, dan tari Likok Pulo yang masih hidup.
Pulau Nasi adalah salah satu pulau utama di gugusan Pulo Aceh, terletak pada koordinat sekitar 5°37′ LU dan 95°7′ BT. Secara administratif pulau ini masuk Kecamatan Pulo Aceh, kabupaten terluar di ujung barat Sumatra. Seluruh wilayah pulaunya terbagi habis ke dalam lima gampong.
| Gampong | Luas (km²) | Penduduk 2024 |
|---|---|---|
| Alue Riyeung | 7,30 | 413 |
| Pasi Janeng | 6,26 | 275 |
| Deudap | 5,33 | 248 |
| Rabo | 4,79 | 411 |
| Lamteng | 3,67 | 219 |
| Total Pulau Nasi | 27,35 | 1.566 |
Sumber: BPS Kabupaten Aceh Besar, Kecamatan Pulo Aceh Dalam Angka 2025 (luas wilayah Tabel 1.1; penduduk DKB Semester II 2024, Dukcapil Aceh Besar). Luas pulau yang terbit di literatur: 27,32 km².
Di pulau ini berdiri SMAN 1 Pulo Aceh (Alue Riyeung), SMPN 1 Pulo Aceh, serta SD dan madrasah di beberapa gampong — anak pulau tidak harus menyeberang untuk sekolah dasar dan menengah.
Puskesmas kecamatan berada di Pulau Breuh, gampong tetangga satu gugusan; Pulo Aceh dilayani ambulans laut sejak akhir 2021, dan di Pulau Nasi tercatat pustu di Pasi Janeng dan Alue Riyeung.
Sebagian warga terhubung lewat jaringan WiFi komunitas lokal berbasis voucher — dijual dan dikelola dari pulau sendiri — selain sinyal seluler dari seberang.
Garis pantai Pulau Nasi bertabur lhok — teluk-teluk kecil berpasir yang menjadi wajah harian pulau: tempat perahu ditambat, ikan dibersihkan, dan anak-anak berenang sore hari.
Daftar wisata Kementerian Pariwisata untuk gugusan ini mencatat antara lain Pantai Deumit, Nipah, Deudap, Pasi Janeng, Lamtadu, dan Pasi Raye. Di Gampong Deudap, titik-titik pesisir yang terdokumentasi meliputi Lhok Keutapang, Lhok Kaca Kacu, Lhok Reudeup, Gunong Penyeri, dan Ujong Eumpee.
Pantai Nipah dikenal untuk snorkeling: hamparan karang hidup dapat dijumpai sekitar 100 meter dari bibir pantai. Perairan pulau juga disebut dalam literatur pariwisata Aceh untuk kegiatan menyelam — datanglah bersama pemandu lokal dan jaga karangnya.
Hasil laut adalah nadi pulau: ikan, sotong, gurita, cumi-cumi, dan kepiting adalah tangkapan utama nelayan Pulau Nasi dari generasi ke generasi.
Mercusuar Willem's Toren III (1875) yang sering tampil di foto Pulo Aceh berdiri di Pulau Breuh — pulau tetangga — bukan di Pulau Nasi. Dari pesisir barat pulau ini, siluetnya adalah pemandangan seberang yang akrab bagi warga.
Menurut tradisi lisan yang dicatat Ensiklopedia Populer Pulau-pulau Kecil Nusantara, nama Nasi dikaitkan dengan bekal nasi bungkus para penyeberang zaman Kesultanan Aceh. Nama lain pulau ini, Peunaso/Peunasou — “pengisi” — dikaitkan dengan kisah Sultan Iskandar Muda, Putroe Phang, dan Raja Kandang.
Di Alue Riyeung terdapat makam kuno Raja Kandang, yang diduga berasal dari era Kerajaan Aceh Darussalam; inskripsinya belum terbaca. Badan makam sempat jatuh akibat tsunami 2004 dan dipugar oleh BRR setahun sesudahnya.
Gelombang 26 Desember 2004 menghantam keras gugusan Pulo Aceh. Menurut kesaksian geuchik setempat, Alue Riyeung adalah gampong yang paling parah terdampak di pulau ini, sementara Rabo — tanah tertinggi di pulau — menjadi satu-satunya gampong yang selamat dari terjangan. Pulau ini bangkit kembali; bekas-bekasnya masih diceritakan para tetua hingga kini.
Tari Likok Pulo — tarian berirama tepukan dan syair nasihat — lahir di gugusan ini dari seorang ulama Arab yang terdampar pada abad ke-19, dan hingga hari ini masih diajarkan serta hidup di Gampong Rabo, Pulau Nasi. Buku resmi Kemendikbud RI (2017) mendokumentasikan tari ini sebagai warisan budaya Aceh Besar.
Satu-satunya jalan ke Pulau Nasi adalah laut — dan memang di situlah petualangannya dimulai.
Semua penyeberangan reguler ke Pulau Nasi berangkat dari pelabuhan ini. Datanglah pagi — jadwal kapal ke pulau sangat dipengaruhi cuaca dan musim.
Kapal feri ASDP KMP Papuyu (284 GT, ±100 penumpang, ±8 kendaraan) melayani rute segitiga Ulee Lheue – Lamteng – Balohan (Sabang) yang dibuka sejak 18 Januari 2024. Lama menyeberang sekitar 1–1,5 jam. Selain feri, warga juga menyeberang dengan boat motor nelayan (sekitar 45 menit dalam catatan perjalanan lama).
Dari pelabuhan Lamteng, gampong-gampong lain — Deudap, Rabo, Pasi Janeng, Alue Riyeung — terhubung jalan pulau yang bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua.
Mayoritas warga adalah nelayan. Pagi dimulai di lhok: perahu berangkat sebelum subuh, dan hasil tangkapan — ikan, sotong, gurita, cumi, kepiting — dijual ke penampung atau dibawa menyeberang ke Banda Aceh.
Di Deudap, warga juga bertani dan berkebun — cabai rawit, singkong, dan semangka tercatat di antara komoditasnya. Alue Riyeung dikenal memiliki sawah pokok pulau ini.
Dinas Kelautan dan Perikanan setempat telah menyuarakan rencana pengembangan budidaya lobster dan rumput laut untuk gugusan Pulo Aceh — peluang berikutnya bagi ekonomi pulau, melengkapi perikanan tangkap yang sudah berjalan.